Diriwayatkan sekitar tahun 1500-an di daerah lurah tentunya di sebelah barat daya kesultanan cirebon, terjadi perselisihan memperebutkan kekuasaan / jabatan untuk menduduki tampuk kepemimpinan di desa tersebut, efeknya masyarakat di wilayah tersebut tidak ada kenyamanan lagi. Salah seorang tokoh dari desa lurah itu yang bernama ke Geden Banjar Sari menyikapi keadaan yang sudah tidak menentu, dia memutuskan untuk pergi meninggalkan desanya yang sudah kacau balau bahkan sudah banyak jatuh korban.

Ki Geden Banjar Sari pergi ke arah selatan dengan tidak ada tujuan yang pasti, yang dia lewati tentunya hutan belantara, naik turun bukit bahkan menyebrangi sungai-sungai. Sudah menempuh perjalanan yang jauh Ki Geden Banjars Sari beristirahat untuk melepaskan lelah, di tempat tersebut Ki Geden Banjar Sari merasa nyaman dengan suasananya yang sejuk, pemandangannya yang elok, di benarkannya ingin sekali membuat tempat tinggal bahkan berkeinginan untuk menjadikan daerah ini sebuah desa tempat tinggal bersama. Dia membuat sebuah gubuk dan tinggal beberapa lama di daerah ini dengan kesendiriannya dia merenung dengan keinginannya untuk menjadikan daerah ini sebuah desa tempat tinggal bersama. Terlintas di pikirannya tidak mungkin terwujud apa yang di inginkannya tanpa ada bantuan orang lain dan bahkan nanti orang-orang yang membantunya untuk bersama-sama tinggal dan menetap di daerah ini. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali sementara ke desanya semula untuk mengajak sahabat terdekat juga sanak famili yang bisa di ajak untuk mwujudkan cita-citanya.

Di suatu hari Ki Geden Banjars Sari pergi meninggalkan gubuknya untuk melaksanakan maksudnya, dia berjalan ke arah utara melewati pepohonan dan semak belukar, baru beberapa saat berjalan kaki, ada sebuah pohon besar yang rindang, pohon tersebut jenisnya lain dari yang lain, dia merasa ada perasaan aneh dan ada rasa takut di saat melintasi berjalan di samping pohon itu. Di saat dia melihat ke arah pohon tersebut alangkah terkejutnya dikarenakan dia melihat ada seseorang yang sedang bertapa. Di benaknya dia ingin sekali minta petunjuk kepada si petapa itu untuk mewujudkan keinginannya. Dia menunggu beberapa saat, yang diharpakan si petapa itu segera melihatnya dan menegurnya.  Rupanya si petapa itu mengetahui kedatangan Ki Banjar Sari, dia langsung membuka matanya dan bertanya siapa nama dan apa tujuannya datang ke tempat ini, Ki Banjar Sari langsung menjawabnya, terjadilah percakapan yang cukup lama, diketahui si petapa itu bernama Buyut Raganala, Buyut Raganala mengijinkan dan mendukung keinginan Ki Banjar Sari untuk membuat pemukiman di wilayah ini, Buyut Raganala pun sepakat agar Ki Banjar Sari mencari bantuan supaya segera terwujud apa yang di cita-citakannya. Maka Ki Banjar Sari mohon pamit keapada Buyut Raganala, ketika dia menegakan kepalanya dengan maksud ingin mohon pamit, ternyata secepat kilat Buyut Raganala sudah lenyap dari pandangannya.

Kemudian berhasilah Ki Banjar Sari mengajak beberapa orang dari lurah di dalamnya termasuk istri, sanak saudara, dan beberapa pendukungnya. Mulailah mereka membukbak wilayah itu menjadi sebuah pemukiman yang dihuni oleh Ki Banjar Sari dan beberapa orang dari desa lurah. Beberapa tahun kemudian, ketika pemukiman itu sudah mulai ramai, Ki Wanantara beserta beberapa santrinya yang berasal dari datang ke sebuah tempat yang letaknya sebelah utara tidak jauh dari pemukiman Ki Banjar Sari, maksud dan tujuan Ki Wanantara adalah untuk menyebarkan agama islam. Ki Wanantara beserta santrinya menditikan padepokan untuk mereka bermukim dan menjalankan misinya di daerah ini.

Disela-sela pembangunan padepokan, Ki Wanantara beserta santrinya menemukan sumber air yang sangat jernih tidak jauh dari tempat mereka mendirikan padepokan. Saking jernihnya air itu sehingga terlihat Kebiru-biruan.

Pada suatu hari wakil Utusan Ki Wanantara beserta santri berangkat ke arah selatan menuju pemukiman Ki Banjar Sari dengan tujuan mengajak warga tersebut memeluk agama islam. Ajakan utusan Ki Wanantara tersebut  Ki Wanantara tersebut tidak disambut baik oleh Ki Banjar Sari, justru hal tersebut menjadikan perselisihan paham antara Ki Wanantara dan Ki Banjar Sari yang kemudian meningkat menjadi sebuah pertampuran fisik antara kedua kelompok tersebut.

Ki Banjar Sari merasakan kehadiran Ki Wanantara sebagai sebuah ancaman untuk kehidupan mereka. Lantas mereka mendatangi kediaman Ki Buyut Raganala. Akan tetapi Banja Rsari tidak menemukan Raganala. Ketika hendak beranjak dari kediaman raganala tiba-tiba munculah suara dari belakang mereka. Di saat itulah Ki Banjar Sari mengetahui bahwa Ki Buyut Raganala baru menampakan diri. Lantas ki Ki Banjar Sari mengadukan maksudnya kepada Ki Buyut Raganala.

Ki Buyut Raganala senada dengan Ki Banjar Sari untuk tetap bertahan dengan keyakinannya, kemudian Buyut Raganala memberitahukan tempat pemukiman padepokan tersebut dan mereka berencana menyerang / mengusir Ki Wanantara beserta para santrinya itu. Terjadilah pertempuran yang kedua kalinya antara pihak Ki Banjar Sari yang dibantu oleh Ki Buyut Raganala dengan pihak Ki Wanantara dan para santri, akhirnya pihak Ki Banjar Sari kalah dari pertempuran. Di sanalah kemudian Ki Banjar Sari bersimpati terhadap kemampuan Ki Wanantara yang mampu menunjukan bahwa kekuatan Ki Wanantara yang bersumber dari Allah SWT mampu mengalahkan beberapa Orang yang memiliki kesaktian ilmu kadigdayaan. dan akhirnya Ki Geden Banjar Sari dan Warganya mengikuti ajakan Ki Wanantara memeluk islam. Selain itu Ki Wanantara menganjurkan Ki Banjar Sari untuk menetap di daerah ini dengan menjalankan ajaran islam, dan Ki Wanantara mengusulkan pemukiman tersebut di namai “CIWIRU”dengan dasar bahwa dia dan santrinya telah menemukan sebuah mata air yang bening, saking beningnya air tersebut berwarna biru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *